Dia menyentuhnya. “ I… i… iya sama-sama ” balasku,
Sebenenarnya aku ingin sekali ada bahan yang yang bisa kami omongkan lagi, agar aku tidak perlu curi-curi pandang kepadanya. Aku tidak dapat lagi memandanginya. Kring..! Aku perhatikan dia sejak bangkit hingga turun. ”
Yes..! Dia cukup lama bermain-main di perut. Jangan di sini..! Dadaku mulai berdegup lagi. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. ” katanya. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Tangannya halus. “ Ah.. Ada cairan putih di celana dalamku. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Dia hanya mengelus tanpa tenaga. Keras sekali. ” dia mendesah keras. Ah, selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu dia menjamah betisku, dan selesai.




















