“Mandi bareng mas”“Y-Ya,” kataku gugup.“Koq diem saja, lepas dong.” Seperti kerbau dungu, aku melepas pakaian yang aku pakai.“Ah-h!” Dita terpekik ketika aku melepas celana dalamku, tampak kontolku tegak menjulang. Ketika aku menoleh kearah kamar mandi, ternyata pintunya tidak ditutup selang beberapa saat kemudian terdengar dia memanggilku,“Mas” Berlahan aku beranjak kearah suara dari dalam kamar mandi, ‘DEG..!’ jantungku serasa mau meloncat ketika aku sampai di pintu tampak Dita hannya mengenakan beha dan celana dalam berwarna merah saja.Mataku melotot memandang lekat-lekat kepayudaranya yang masih tertutup beha ukuran 34, menggantung indah. Ternyata pilihanku tidak salah, karyawanku itu ternyata pandai menarik order sehingga perusahaan kebanjiran order.Satu dari sembilan staffku bernama Shariffa dipanggil dengan Iffa.




















