Tangan Pak Darso tak tinggal diam menyenggamai buah dada istriku yang telah menjulang tegak. Mauuhh.. Tapi nampaknya Pak Darso masih meneruskan aktivitasnya. Masuk. Begitu adegan selesai aku dengan perlahan sekali menutup pintunya. Ke lehernya. Tinggi sedang dan hebatnya perut tidak terlalu melambung. Berdebar jantungku.Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Jadi semakin menjadi-jadilah diriku menghabiskan waktu mengurus bisnis karena belum ada urusan lain yang memerlukan perhatianku. Aku yang berusia 38, istriku 31, pembantu laki-laki 52, dan pembantu wanita 44. Baru kali ini kulihat wanita membiarkan keteknya berbulu. Ahh.. Kubaringkan. Itulah santapan rohaniku.Dan itu sering terjadi karena aku sering bepergian dalam waktu lama pula, rekorku pernah sampai






