Telah memakai kain sarung. “Iya. Lalu hidungnya mencium tangannya, aku agak heran. Sepasang putingnya melesak di balik daster tipisnya. Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu terpampang jelas di mataku. Bukan, bukan aku yang melakukannya. Dia baik dan suka membantuku. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di pahanya. Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Aku yang masih bocah terus membacanya. Aku tak punya keberanian untuk membongkar paksa.Suatu malam, setelah aku kelas tiga, setelah hampir dua tahun di rumah Pak Rochim, aku sedang tidur dengan Kak Tina di sebelahku. Otakku terbakar! “Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku. Bukan, beliau orang baik (sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu).




















