Sayang Sari hanya sempat bermalam 1 malam di kotaku karena takut menimbulkan masalah baru pada rumah tanggaku, sementara aku masih siap menemaninya selama beberapa malam sekiranya ia mau bertahan. “Ha ha ha, rupanya Kak Aidit ini sudah lupa denganku yah atau sudah sombong karena sudah tenang kehidupannya sekarang?” tawanya menyindir. Bahkan ia sempat menghentikan makannya sejenak. “Yah betul, dan saya sendiri. Aku lalu ke Banjarmasin dan tinggal di rumah sepupuku. Alangkah nikmat dan bahagianya perasaanku malam itu. Siapa ini yah?” jawabku dalam telepon. Dalam keadaan menyamping, ia mendorong CD-ku hingga turun sampai ke lutut, lalu meraih isinya yang sedang mengacung itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan memainkan dengan lidahnya, bahkan memutar-mutar dalam mulutnya, sehingga
















