Aku hanya terpaku menatapnya tanpa berkedip, terutama ketika ia sedikit merenggangkan kedua pahanya, nampak warna merah pada kedua bibir vaginanya.Aku hanya bisa bernafas terputus-putus melihatnya dengan jelas sekali akibat cahaya lampu yang memancar dari bawah rok warna putih dan agak tipis yang dikenakannya. Ternyata sikapnya itu menunjukkan kalau ia mencapai puncaknya. Ketika kumasukkan tangannya ke dalam celanaku“Ah, jangan kak, nanti dilihat orangtuaku”, katanya sambil menarik tangannya seolah takut dan malu ketahuan orangtuanya. Ia lalu kembali memperbaiki cara duduknya seolah menyadari dan menyesali sikapnya barusan itu. Tidak puas dengan ujung siku, aku lalu berusaha meremas susunya itu dengan ujung tangan kiriku yang kudorong agak keluar, akhirnya sempat menyentuh payudara itu. Aku bersyukur sekali ada orang lain



















