Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Tidak perlu diantar. Agar kejadian kemarin terulang. Dadaku mulai berdegup lagi. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Aku menggelepar.“Sst..! Masih ada esok. “Ini..?” kataku. Aku tersetrum. Bayar arisan. Apa katanya nanti? Hap. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Kaki disandarkan di dinding. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Betul-betul keras. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Aku tidak berpakaian kini.



















