Yes.., akhirnya. Sekarang sudah lebih lancar. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Lalu asyik membuka tabloid. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Dari perut turun ke paha. Tetapi, bayangan itu terganggu. Bodoh amat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Aku masih mematung. Ia malah melengos. Satu dua, satu dua. Masih menutupi diri dengan tabloid. Aku hanya main dengan tangan. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya.
















