Hingga suatu hari..”Pak Kartolo tiba-tiba mendatangi saya, Kakek” katanya. Dia mengangguk, mengulang lagi kata-katanya yg bego tadi:
“inggih Kakek, kulo nderek kemawon..”. Wah, nama lokal betul.Aku berdeham:
“berapa umurmu? Nah, di bawah perutnya, di selangkangannya terlihat segunduk kecil sekali rambut-rambut kemaluan, pas dan cocok dgn usianya yg baru 14 tahun. Nyuwun tulung Kakek..” suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti sedu sedan.Kemudian dgn cepat dan dgn suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada seorang laki-laki, bernama Kartolo, yg sangat ditakutinya. Wajahnya menunduk Sara ke bawah:
“kenapa?” tanyaku:
“kamu rasa sakit ya Cah Sara? Dia tidak menjawab, namun nafasnya semakin menaik:
“hegh..eemmh..” erangnya. Mulutku menyedot-nyedot barang indah itu dgn bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Empat belas tahun?




















