Aku pergi ke belakang rumah tempat biasanya sang kambing merumput, aku tidak menemukannya di sana. Kepala terasa berat, menahan hasrat yang demikian menekan. Aku meringis kesakitan.“Pelan-pelan dong..!” kataku. Lalu?” jawabku. “Menikmati memekmu..”
“Oohh… kamu suka?”
“Suka sekali.. Ayam itu tetap berkotek dan berusaha melepaskan diri.Pelan-pelan ayam itu kuangkat sedikit dan kutekan kembali perlahan-lahan dan akhirnya semakin kencang. Pelan-pelan anjing itu kuusap-usap dan kusingkirkan, dan cepat-cepat kugantikan tugas yang sedang dilakukan anjing itu. Perasaan enak terasa di ujung kontolku, entah mengapa, mungkin karena imajinasiku membayangkan bahwa memek yang sedang kugesek-gesek itu adalah memek adikku. Bless… Ahh.. “Bagaimana kalau kita lanjutkan?” tanya Yuli. Ia mengatakan bahwa kambing itu setelah aku pergi sekolah dibawa ayah untuk dijual ke Pak Lurah.


















