Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Mengelus-elus
si kecil yang telah bangun. Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Benda lembut sebesar apel itu terasa lebih
hangat. Saat itu aku mulai numpang tinggal dan hidup di
rumah Pak Rochim semenjak kelas satu SMP, dan aku tidur di sebuah kamar
kecil dengan pembantunya, seorang perempuan berusia sekitar 21 tahun. Bikin malu saja”, Kata Kak Tina. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku. Keringatnya mengucur, bau badannya tercium
begitu menyengat. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di
pahanya. Mulai saat itu aku menyukai Pendekar Mata
Keranjang dan sejenisnya. Sehingga waktunya cukup banyak untuk membaca. Terkadang kupikir Kak
Tina tahu, tapi dia membiarkan saja. Ternyata Kak Tina tidak mengenakan bra.



















