Ada kelembutan yang memancar dari bola matanya yang menatap sendu. Semakin basah. Terawat. Kami saling menatap. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengangkat daguku. Seandainya rintihan itu terdengar pun, aku tak peduli. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian menutupi bibir kewanitaannya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku menengadah.“Kurang jelas, Jhony?” Aku mengangguk.Mbak Lia tersenyum nakal sambil mengusap-usap rambutku. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari




















