Akibatnya kami berdua basah kuyup ketika sampai di dalam mobil. Senang bergonta ganti kekasih bahkan tak segan-segan mengakhirinya di tempat tidur. Bagaimana dengan rencana-rencanaku buat mencelakainya. Itu adalah ledakan dari bom Nuklir mini. Aku sadar akan semua konsekwensi dari keputusan singkat yang kuambil saat itu. “Garrgggggg Mangggggg!!” aku terpekik geli. Aku menjadi serbah salah. Apa yang harus kulakukan sekarang? Tentu saja! Kedua tanganku langsung meraih kepalanya dan menariknya semakin erat ke dadaku sedangkan ia sendiri merangkul pinggangku. Tetapi suatu yang tak biasa kembali terjadi. “Mamang cuma ingin non dan mamang bisa selalu bersama”
“Tapii Mangg…Sabrina pikir ini tidak betul..dan.. Mereka juga selalu tidur lebih awal sehingga memudahkan aksi mang Gimin.














