Lia menutup pintu ruangannya dan kemudian menguncinya. Tak perlu waktu lama untuk membangkitkan kembali gelora gairah yang tadi sempat menghilang diantara keduanya.“Ooh… Lia memekmu nikmat sekali…”.Muncul sebersit rasa bangga dalam diri Lia mendengar pujian yang keluar dari mulut sang bos. Rugi dong dibuka?”, Lia melirik nakal ke arah kedua payudaranya yang memang kini sedang “menganggur”.“Nggak dong…”, selesai berucap puting payudara kanan Lia langsung amblas ke dalam mulut Pak Wid. Pak Wid sendiri merasakan jepitan vagina sang sekretaris begitu kencang karena sudah hampir seminggu lebih ia tidak menikmatinya. Begitu Lia selesai menutup pintu, tiba-tiba sebuah pelukan langsung membekap tubuh sintalnya dari belakang.“Ah Bapak nakal…”, Lia berucap pelan.“Bapak kangen nih sayang”, sebuah kecupan langsung mendarat di pipi



















