Jangan-jangan dia melihatku juga? bangsat kamu muka innocent tapi jago banget nyeponggggghhhh…” dia bergumam gak jelas.Ocehannya makin tidak jelas saat kugunakan tanganku untuk membantu mengocok penisnya. Kepalaku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Setiap tamparan yang pantatku terima malah membuat otot vaginaku mengejang. Aku menangkap nada kecemburuan dari nada bicaranya.Dokter Chandra menyukaiku. Jangankan ketemuan, dengar suaranya via telepon saja belum pernah. Aku membalas chatnya dengan pertanyaan:Kamu ngapain ke sini?Dia menjawab:Mau ketemu sama bidadari yang hadir di mimpiku setiap malamAku hanya diam dan tidak membalas chat darinya. Termasuk beberapa staf rumah sakit dan dokter Chandra. Meski kami duduk di pojok, tapi di cafe ini ada beberapa pengunjung yang bisa saja mencuri dengar.




















