“Terima kasih, Mas Joe.”
“Untuk apa?”
“Karena telah mau menemani Mikha.”
Aku hanya diam. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku. Mikha cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip. “Mas, setelah ini mau kemana?”
“Pulang. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. “Mas Joe, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Mikha yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas.




















