Aku menyediakan tubuhku untuk memuaskan wanita-wanita kesepian. Dan detik itu juga, aku lari tunggang langgang. Jadi mulutnya cuma pas buat penisku. Dan, “Bles.. Anda.. Penisku terlihat berdiri tegak seperti patung Monas. Pucat. Parto tiba-tiba menepuk bahuku. Sekilas kulihat wajah mayat itu. Yang penting, nanti malam, setelah semua sepi, aku akan ‘mengerjai’-nya dengan senjata andalanku yang siap setiap saat.Seperti biasa, kumandikan mayat baru itu dengan penuh semangat. “Benar..” sekonyong-konyong suara wanita itu berbunyi. Kudorong maju mundur dengan pelan, terasa nikmat sekali. Aku bekerja wiraswasta. Dengan pelan kuremas-remas buah dadanya yang membusung itu. Rupanya namanya Yanthi Fifyanti. Pikirku lagi. Ya, disanalah aku biasa tidur. Dan detik itu juga, aku lari tunggang langgang.




















